
RadarSlsentral.com – Tren peningkatan angka gugatan cerai di kota besar seperti Surabaya rupanya menyisakan persoalan psikologis pelik. Terutama bagi perempuan muda yang usia pernikahannya baru seumur jagung. Fenomena krisis multidimensional dan hilangnya arah masa depan inilah yang menarik perhatian lima mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) untuk menginisiasi sebuah penelitian intervensi klinis.
Ide tersebut tertuang dalam penelitian PKM Riset Sosial Humaniora (RSH) 2026 bertajuk Life After the End: Logoterapi sebagai Penguatan Psikologis dan Sense of Purpose Wanita Pasca Perceraian Dini. Berkat gagasan solutif ini, Kayla Rizky Putri, Annisa Alizee, Farah Anisa, Shafa Annisa, dan Qisthi Vinaya sukses meraih pendanaan Kemdiktisaintek.
Membingkai Ulang Arti Sebuah Akhir
Kayla selaku ketua tim mengungkapkan, ketertarikan mereka bermula dari krisis multidimensional para penyintas muda yang berpotensi memicu stigma sosial hingga hilangnya arah masa depan. Berbeda dengan riset umum yang berfokus pada faktor penyebab perceraian, tim UNAIR memilih mengeksplorasi cara membangun kembali makna hidup korban.
“Kami memilih frasa Life After the End karena ingin menggambarkan adanya harapan baru dan semangat melanjutkan hidup. Meskipun perceraian menandai berakhirnya ikatan pernikahan, kami ingin menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukanlah akhir perjalanan hidup seseorang. Melainkan titik awal kesempatan untuk memulai babak baru yang penuh tujuan,” ungkapnya.
Melalui pendekatan Logoterapi, riset ini berfokus pada pencarian dan pembangunan kembali aspek makna hidup yang sempat terguncang setelah perpisahan. Kayla menambahkan bahwa metode intervensi klinis ini dirancang melalui refleksi dan dialog terarah.
“Kami ingin membantu para partisipan mengeksplorasi nilai pribadi dan potensi yang dimiliki agar secara bertahap mereka terbantu menemukan kembali sumber tujuan hidup (sense of purpose) yang baru,” jelasnya.
Pendekatan Meaning-Making
Menariknya, tim menemukan fakta lapangan bahwa mayoritas riset perceraian selama ini hanya berfokus pada penyebab konflik atau dampaknya terhadap anak. Terdapat kesenjangan besar di mana dinamika psikologis perempuan muda yang bercerai setelah pernikahan singkat bahkan baru berjalan beberapa bulan akibat pernikahan dini sering kali luput dari perhatian.
“Di lapangan, kami menemukan kasus nyata penyintas muda yang harus bercerai di usia pernikahan dua bulan saja karena konflik dan keterbatasan finansial. Kesenjangan fokus riset inilah yang kami bidik. Sebab di usia remaja akhir dan dewasa awal, mereka justru sedang berada di fase krusial pembentukan identitas dan perencanaan masa depan,” urainya.
Kayla dan tim berharap hasil riset ini dapat memicu pemulihan resiliensi komunitas wanita penyintas secara nyata. “Kami memimpikan riset ini menjadi medium rekonstruksi psikologis. Agar para perempuan muda mampu memvalidasi rasa duka mereka secara sehat tanpa harus terpuruk berlarut-larut, hingga akhirnya bisa bangkit kembali dan berdaya secara mandiri,” tegasnya.
Kayla mengimbau para perempuan muda yang sedang terpuruk agar menyadari bahwa perceraian tidak pernah mengurangi nilai dan potensi diri mereka. Ia juga memotivasi mahasiswa UNAIR lainnya untuk selalu peka terhadap fenomena sekitar. Sebab, setiap gagasan kecil yang berani didiskusikan bisa menjadi solusi nyata bagi masyarakat luas.
